“LPG, dramanya agen yang terus culas. Katanya pangkalan bermasalah lalu ditutup. Rupanya cuma ganti nama keluarga pemilik pangkalan itu. Lah, sekarang balik lagi,” celoteh seorang kawan di warung depan Kecamatan Banjit.
Kopi pahit sejak tadi tak juga diseruput. Rupanya menunggu dingin.
Menunggu dingin, seperti berhentinya beberapa pangkalan LPG. Setelah dingin, ya, dibuka lagi.
Aku hanya diam dan berpikir, kok bisa begitu, ya?
Rupanya agen dan pangkalan ini seperti satu lingkaran. Apalagi kalau pemilik agen sudah merasa paling kebal hukum.
“Kamu tahu nggak, di sini ada pangkalan yang katanya tempo hari ditutup. Ternyata cuma modus. Penggantinya masih orang-orang pangkalan itu juga. Sekarang gas LPG 3 kilo yang katanya subsidi itu, diturunkan lagi di rumah pangkalan lama,” lanjut kawan, sambil menyeruput kopi pahitnya yang sudah mulai dingin.
Sahabatku yang dari tadi diam ikut berkomentar.
“Lah, nggak semuanya begitu. Ada juga yang awalnya atas nama suami, sekarang ganti nama anak, istri, keponakan. Tapi truk agen nurunin LPG-nya masih di rumah pangkalan lama itu juga,” ujarnya sambil menghisap rokok kretek.
Rokoknya rapi benar. Luarnya dibungkus, dalamnya ada bungkus lagi. Satu per satu batang rokok tersusun rapi.
Serapi permainan agen-agen culas itu. Tapi tetap aman-aman saja. Sebab, katanya, semua sudah di-ACC oleh Patra Niaga Pertamina.
“Sudahlah, jangan terlalu kepo. Pangkalan mana saja yang katanya ditutup lalu beroperasi lagi, cuma beda warna ‘baju’. Orangnya ya tetap itu-itu saja,” ujar sahabat, seraya memperlihatkan data pangkalan di situs resmi lewat ponsel Android tuanya yang buruk.
Seburuk kelakuan mereka yang hanya mengejar untung sebesar-besarnya, tanpa memikirkan kepentingan orang banyak. Padahal jelas, LPG subsidi itu dibuat untuk rakyat, bukan semata bisnis.
“Sudahlah. Nanti kalau kita ngotot, dibilang nggak tahu menghargai. Katanya dulu pernah dibantu. Entah bantuan apa. Yang jelas, katanya pernah dibantu,” sahutku sambil tertawa renyah.
Di depanku ada bakwan goreng. Tanganku meraih satu, digigit bersama cabai. Pedas.
Seperti pedasnya kritik Masyarakat yang sering kali tak digubris. Yang penting cuan. Penegak hukum pun, entah kenapa, kerap terlihat aman-aman saja.
Aku kembali diam, menikmati kopi pahitku. Sahabat dan kawanku pamit lebih dulu, katanya ada acara. Yah, ketempuhan lagi, bandarin mereka. ***













