Ngopi Bareng Mas Kapolres, “Jalan Banjit Asyik Juga, Ya”

Ngopi Bareng Mas Kapolres, “Jalan Banjit Asyik Juga Ya”
Seno, CEO GNM dan Kapolres Way Kanan, AKBP Didik Kurnianto, S.I.K

“Asyik juga jalan ke Banjit itu ya. Tapi ada baiknya, ada buruknya. Kalau bagus malah pada kebut-kebutan, kalau jalannya jelek kan malah pada santai,”
kata Kapolres Waykanan, AKBP Didik Kurnianto, S.I.K, yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Polsek Banjit.

Aku hanya senyum tipis mendengarnya. Entah kenapa, kalimat itu terdengar ringan, tapi di kepalaku justru terasa berat.

Jalan ke Banjit itu bukan cerita baru. Entah sudah berapa periode jabatan bupati, ia selalu hadir dalam janji, tapi absen dalam realisasi.
Dulu katanya milik PU Provinsi. Belakangan malah “tukar guling” dengan jalan arah kantor Bupati Waykanan.
Seolah-olah aspal pun bisa dipindah-pindah sesuai kepentingan.

“Saya ingin bagaimana anak-anak yang orang tuanya terima bantuan itu bisa jadi polisi, jadi tentara, atau jadi PNS. Jadi nanti banyak pejabat yang asalnya dari Waykanan,”
kata Mas Didik.

Aku mengangguk pelan.Kalimat itu indah. Terlalu indah, bahkan. Karena di Waykanan, mimpi sering tumbuh lebih cepat daripada jalan yang mengantarnya.

Tak lama kemudian kopi hitam disuguhkan. Aku menyesap sedikit. Terlalu manis.
Bukan karena gulanya kebanyakan, tapi karena aku sedang teringat, betapa banyak janji di daerah ini yang juga terlalu manis saat diucapkan, tapi hambar saat ditagih.

Seperti sakitnya warga yang bertahun-tahun gotong royong menimbun jalan rusak.
Bukan karena hobi, tapi karena lelah menunggu negara datang membawa aspal.

Dan benar saja.
Setiap musim politik tiba, jalan rusak kembali jadi panggung kampanye.
Janji diulang. Spanduk diganti. Begitu kursi kekuasaan diduduki, anggaran pun tiba-tiba menghilang.

“Kocak juga ya Kapolres baru ini, santai dan rileks,” celoteh seorang kawan, usai keluar dari ruang Kapolres.

Aku tersenyum. “Iya, santai memang”.
Tapi aku diam-diam berharap, santainya Mas Kapolres tidak menular pada cara negara memperlakukan warganya.

Kami pindah ke musala belakang Polres. Perut mulai keroncongan.
Tapi obrolan lebih dulu kami kenyangkan.

“Wah, maaf Pak Kasat, ganggu makan,” ujar seorang sahabatku, saat masuk ke ruang Kasat Narkoba.

“Santai. Kita ini sama-sama orang lapangan,” jawab Bung Iptu Prayugo Widodo, sendok tetap berjalan, nasi tetap berkurang.

Ternyata Bung Prayugo juga telat makan, Jam sudah setengah dua.

Aku tersenyum getir. Telat makan tak apa.
Yang tak apa-apa itu justru sering kita biasakan, telat menepati janji.

Di negeri ini, telat makan dianggap masalah. Telat janji dianggap biasa.

Seperti pejabat publik yang hobi berjanji, tapi alergi menepati.

Yah, namanya juga janji politik.
Kalau tak berjanji, rakyat tak percaya. Kalau terlalu sering berjanji, rakyat tetap saja percaya.
Meski sudah muak. Meski sudah kapok.
Meski sudah hafal pola kebohongannya.

Kami akhirnya pamit. Mendapat penjelasan tentang narkoba.
Mendapat Sebotol Air Mineral, obrolan yang terlalu jujur.

Kami bertiga berpisah ke arah yang berbeda. Membawa pikiran yang sama:

Di Waykanan, yang paling rusak bukan cuma jalan, Tapi juga harapan yang terlalu sering ditambal janji.

Dan aku menyimpan satu niat kecil, kapan-kapan mau ngajak Mas Kapolres ngopi pahit.
Biar lidah kami sama-sama tahu rasanya kenyataan.

 

Tinggalkan Balasan

error: Berita Milik GNM Group