Celoteh itu tiba-tiba pecah di sebuah warung makan sederhana di pinggiran Rumah Sakit Zapa, Way Kanan.
“Kok digulung? Kenapa digulung ya? Yang dibawa itu para pekerja,” celoteh seorang kawan, sambil menyeruput kopi paitnya.
Aku hanya diam, mencoba mencerna maksud ucapannya. Maklum, aku jarang turun gunung dan belum terlalu mengikuti kabar terbaru.
“Polisinya banyak, pakai pakaian hitam semua. Katanya Brimob. Bukan cuma orangnya yang diangkut, alat beratnya juga disita. Aku bingung, padahal itu sudah lama terjadi. Banyak saudara-saudara kita juga yang menggali di dekat Polres,” sambungnya lagi.
Sahabatku yang lain ikut menimpali. Sambil menikmati kopi pahitnya saat berbuka puasa, ia berkata bahwa kabar penggerebekan tambang ilegal memang sedang ramai diperbincangkan.
Maklum, seharian menahan diri tanpa kopi, tegukan pertama setelah azan magrib terasa begitu nikmat.
Kopi kental di warung itu tak kalah dengan kopi manis di kafe atau restoran. Tapi obrolan kami sore itu jelas lebih pahit dari kopi yang diminum.
“Hah, tambang ilegal yang biasa disebut T.I. itu. Masa kamu nggak tahu? Katanya yang menggerebek bukan dari daerah sini. Kabarnya dari anak buah petinggi di sana. Tapi kok ya menjelang Lebaran begini,” ujar seorang kawan sambil terus menggulir layar ponselnya, mencari kabar terbaru tentang para pekerja tambang yang ditangkap.
Rupanya salah satu dari mereka masih kerabatnya sendiri.
Bukan sekadar kerabat jauh. Hubungan mereka bahkan bisa dibilang cukup dekat. Setidaknya, begitu yang sering diceritakan orang-orang, karena setiap bulan ada saja kiriman yang datang.
Entah karena hubungan keluarga atau alasan lain, aku tak pernah benar-benar mendalaminya.
Yang aku tahu, T.I. itu tambang emas. Aktivitasnya sudah berlangsung lama. Bahkan bukan lagi sembunyi-sembunyi. Ekskavator sebagai alat berat mereka hampir setiap hari terlihat bekerja.
“Yang mau Lebaran bukan kamu saja. Mereka juga mau Lebaran dan butuh uang. Yang apes itu pekerja tambangnya. Luluh lantak dibuat Lebaran tahun ini,” ujar sahabatku sambil menaikkan satu kakinya ke kursi.
Ia tampak santai menikmati buka puasa di warung itu. Lauknya hanya telur goreng, minumnya es teh manis. Tapi raut wajahnya terlihat tanpa beban.
Berbeda dengan mereka yang selama ini disebut-sebut bisa “mengamankan” semuanya. Katanya sudah ada setoran ke sana-sini. Tapi saat badai datang, semua seolah hilang begitu saja.
Tiba-tiba aku teringat sebuah status di media sosial milik seorang tokoh masyarakat yang juga mantan anggota DPRD Way Kanan.
Statusnya sederhana, tapi menohok.
“Aparat mau Lebaran. Tokoh juga mau Lebaran. Penambang juga mau Lebaran. Akhirnya yang tidak Lebaran buruh tambang.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
“Kalau dipikir secara logika alam, mereka memang merusak alam. Tapi dari alam itu juga mereka hidup. Alam memberi mereka kehidupan,” celetuk sahabatku lagi sebelum berdiri.
“Kalau alam rusak, mungkin kehidupan juga ikut rusak. Padahal tatanannya juga sudah lama rusak,” tambahnya sambil berjalan menuju masjid untuk salat magrib.
Aku hanya terdiam.
Sulit menyimpulkan semua ini. Tambang itu disebut ilegal, tapi selama ini berjalan seolah legal. Atau mungkin dilegalkan oleh mereka yang merasa punya kuasa untuk melakukannya.
Yang jelas, kalau sudah ada alat berat di sana, tentu pemainnya juga bukan orang sembarangan.
Buruh tambang tak mungkin membeli ekskavator. Dan alat berat tak akan bekerja tanpa ada yang “berat” di belakangnya.
Entahlah.
Yang aku tahu, yang sering digulung biasanya para pekerja.
Sementara yang benar-benar berat, sering kali tetap berdiri tegak. ***













