Oleh : Bimo Seno
Ku telusuri bibir jurang itu sendiri
tanpa kata dan nama menyertai
berkali gema menyambar naluri
menyeringai aku saat duri menghampiri
Adakala aku miris
namun, aku mulai mengerti
saat dahan kering menghantamku
tiada yang akan peduli
Meski congkak batu telah kuhancurkan
karang terjal membuat luka tak berdarah
kerikil masih terasa mengganjal
namun, itu hanya asa… bukan rasa
Ada yang memilih berjalan tanpa jejak
tanpa menitipkan arah pada langit
segala ditimbang dengan sunyi yang asing
seolah doa hanyalah bayang yang tak perlu
Aku tak lagi mengejar bayang-bayang
cukup menegakkan langkah yang tersisa
sebab dua cahaya masih menyala
meski angin datang tanpa aba-aba
Dan di ujung yang belum terlihat itu
aku cukup berdiri… tanpa menghitung yang Kembali
hanya menjaga nyala agar tetap utuh
hingga waktu yang menjawab nanti
Banjit, 1 April 2026













