Kisah Dua Anak Kembar Mesuji yang Harus Transfusi Darah Seumur Hidup

Kisah Dua Anak Kembar Mesuji yang Harus Transfusi Darah Seumur Hidup
CAption : Kisah Dua Anak Kembar Mesuji yang Harus Transfusi Darah Seumur Hidup

Mesuji – Di balik riuh suara bel sekolah SMP Negeri 13 Mesuji, Desa Sungai Buaya, Kecamatan Rawajitu Utara, ada dua kursi kelas VIII yang selalu terisi anak-anak dengan senyum tipis dan wajah pucat. Mereka adalah Fadli dan Fadlan, anak kembar yang sejak bayi harus belajar bertahan hidup dengan penyakit yang tak pernah mereka pilih: thalasemia.

Sejak usia sekitar 10 bulan hingga kini menginjak 14 tahun, Fadli dan Fadlan harus rutin menjalani transfusi darah setiap bulan di rumah sakit di Kota Bandar Lampung. Sebuah rutinitas berat yang memaksa mereka tumbuh lebih cepat dari usia seharusnya.

Kisah dua bocah ini terungkap saat peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah mereka, Senin (2/2/2026). Saat itu, Camat Rawajitu Utara Hendra Kurniawan mendapati dua siswa yang tetap hadir di sekolah meski harus berjibaku dengan penyakit kronis seumur hidup.

“Meski kondisi kesehatannya kurang baik, mereka sangat rajin sekolah,” tutur Misyanti, guru SMPN 13 Mesuji, dengan mata berkaca-kaca.

Ia menjelaskan, Fadli dan Fadlan hanya absen saat jadwal berobat dan transfusi darah. Selebihnya, keduanya tetap mengikuti pelajaran seperti siswa lain, meski tubuh mereka kerap lemah.

Cerita pilu itu diperkuat oleh Warsito, guru sekaligus tetangga keluarga mereka. Menurutnya, penyakit thalasemia baru diketahui saat Fadli dan Fadlan masih bayi, ketika keduanya sering mengalami demam tinggi.

“Dokter bilang mereka mengidap thalasemia, penyakit yang belum ada obatnya. Kalau sudah mendekati jadwal transfusi, wajah mereka terlihat makin pucat,” ujar Warsito lirih.

Meski biaya transfusi darah ditanggung BPJS, perjuangan keluarga belum selesai. Biaya transportasi menuju Bandar Lampung setiap bulan menjadi beban tersendiri bagi keluarga sederhana itu.

“Obatnya memang gratis, tapi ongkos ke rumah sakit itu tidak kecil,” tambahnya.

Saat ini, Fadli dan Fadlan tinggal bersama ayahnya, Mustar. Ibu mereka terpaksa merantau ke Taiwan demi membantu ekonomi keluarga. Perawatan sehari-hari kedua bocah itu banyak dibantu sang kakek, sementara kakak mereka juga harus bekerja.

Sekretaris Desa Sungai Buaya, Rizal, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut perhatian dan pendampingan sangat dibutuhkan agar keberlangsungan pendidikan dan kesehatan Fadli dan Fadlan tetap terjaga.

Mengetahui kondisi itu, Camat Rawajitu Utara langsung meminta jajarannya mendata dan melaporkan kasus tersebut ke instansi terkait, guna mencari solusi dan bantuan yang lebih konkret.

“Tolong data anak-anak ini segera, agar bisa kita tindak lanjuti dan dibantu penanganannya,” ujar Camat Hendra.

Di tengah keterbatasan dan penyakit yang terus menggerogoti tubuh mereka, Fadli dan Fadlan tetap datang ke sekolah, menggenggam harapan sederhana: bisa belajar, bisa hidup normal, dan tetap bermimpi seperti anak-anak lainnya.

Tinggalkan Balasan