Oleh : Bimo Seno
Tak ada suara saat semua runtuh
hanya retak yang menjalar tanpa arah
seperti kaca yang pecah di dalam dada
namun tak pernah terdengar oleh siapa
Aku kira ini hanya tentang lapar
tentang angka yang tak pernah cukup
tentang hari-hari yang menua tanpa isi
ternyata aku yang tak pernah utuh
Di ruang yang dulu kusebut pulang
kini hanya sisa langkah yang tertinggal
namaku seperti terhapus pelan
dari dinding yang pernah mengenal
Ada bayang yang tak pernah kutanya
namun diam-diam telah menggantikan
aku hanya sisa yang terlambat sadar
bahwa tempatku telah lama ditinggalkan
Aku seperti hujan yang salah musim
turun tanpa pernah dinanti
menyentuh tanah yang tak lagi haus
lalu hilang tanpa arti
Tak ada yang perlu disalahkan
bahkan luka pun terasa lelah
karena yang tersisa kini bukan amarah
melainkan kosong yang tak terjelaskan arah
Jika dulu aku pernah berarti
mungkin itu hanya jeda
sebelum waktu benar-benar memilih
untuk menghapusku tanpa sisa
Kini aku duduk di antara sunyi
tanpa ingin kembali atau pergi
karena aku telah kehilangan satu hal pasti
rasa bahwa aku pernah dimiliki
Di antara runtuh yang belum selesai
aku menggenggam dua cahaya kecil
yang tak pernah tahu gelapku sedalam ini
namun tetap memanggilku… “ayah”
Langkahku mungkin patah di banyak arah
namun suara itu menahanku tetap berdiri
meski lutut ini telah lama goyah
dan harap nyaris tak tersisa lagi
Ya Rabb…
jika aku terlalu lemah untuk dunia
jangan biarkan aku runtuh di hadapan mereka
yang menjadikan mataku alasan untuk percaya
Aku tak meminta jalan yang mudah
cukup jangan Kau cabut nafasku sebelum waktu
sebelum dua hati kecil itu mampu berjalan
tanpa harus mencari bayangku di setiap rindu
Biarlah aku tetap di sini
meski hanya sebagai sisa yang bertahan
asal mereka tumbuh tanpa luka yang sama
tanpa harus mengenal arti kehilangan
Jika hidup ini harus terus menggulungku
biarlah aku pecah tanpa suara
asal dua cahaya itu tetap utuh
dan tak pernah belajar arti ditinggalkan oleh dunia
Banjit, 19 April 2026












