“Anda titipan, tenang… pasti lulus. Panitia seleksi sudah picingkan mata sebelah,” celetuk seorang kawan di ruang redaksi gentamerah.com. Suara gerimis di luar beradu dengan gelegar petir, sementara kopi di mejanya setengah pahit, tak panas lagi.
Aku yang sedang menatap layar komputer langsung menoleh, tersenyum tipis. Lalu buru-buru ku-shut down komputer. Takut kesamber petir, Bos.
Beda sama mereka yang nyali besi. Petir aja ditantang, apalagi cuma sindiran.
“Biasanya, Oktober sampai November sudah ada pemberitahuan perpanjangan kontrak. Tapi ini? Sunyi. Malah kabarnya ada partai yang udah kumpulin nama-nama calon pengganti. Katanya sih, penggede mereka lagi naik daun di pemerintahan,” katanya sambil menghembuskan asap kretek, tanpa menjelaskan posisi apa yang ia maksud.
Aku cuma menebak-nebak. Kadang dia menarik napas panjang, kayak mau bicara sesuatu tapi masih takut.
“Sudahlah, ngomong aja jabatan apa itu. Susah amat, kayak rahasia negara. Kalau nggak berani, ya diam. Biar kami nggak penasaran,” timpal sahabat di depanku, setengah kesal.
Rupanya dia juga penasaran. Sama penasarannya dengan mereka yang ikut seleksi tanpa embel-embel, cuma mengandalkan kemampuan. Dalam hati, pahit.
Aku cuma bergumam, “Lah, permainan beginian kan bukan baru. Udah lama, dan merembet ke mana-mana. Gaji besar, gaji kecil, kalau bisa disikat buat ‘orang guwe’, ya disikat.”
Kawanku melanjutkan, “Mereka sempat bikin grup WhatsApp, buat calon-calon yang katanya sudah positif bakal duduk di posisi kami sebagai pendamping. Tapi karena keburu heboh, grup itu dibubarkan.”
Owalah… soal pendamping, tho. Tapi pendamping yang mana? Sekarang banyak: pendamping desa, pendamping KDMP, pendamping ini, pendamping itu. Yang jelas bukan pendamping hidup.
Aku cuma menggumam dalam hati. Takut salah bicara, takut ada yang tersinggung.
Toh, kalau yang jadi “raja” itu bibikku, kakakku, atau omku, mungkin aku juga bakal titip orang. Malah bisa lebih parah. Dari patih sampai panglima perang, semua orang guwe.
Aku tertawa kecil. Seperti kecilnya nyali kawan itu dalam pusaran besar titipan dari organisasi, partai, sampai pejabat.
Jangankan jabatan tinggi, proyek kecil aja udah ada plotnya.
“Kamu ini ngomong bae. Coba kalau kamu yang jadi pimpinan, atau duduk di kabinet, pasti juga datang ke guwe, numpang ngopi pahit. Alasannya klasik,” kata sahabatku sambil ngelinting rokok terakhirku.
Ya sudahlah, ambil aja. Aku penonton bae. Siapa tahu hujan malam itu jadi petuah:
Bahwa di negeri yang masih penuh titipan, mimpi untuk lulus tanpa orang dalam tetap harus diseduh dengan kopi pahit dan harapan panjang.













