Waykanan, Lampung – Malam itu, hujan rintik turun pelan seolah ikut berkabung. Di Kampung Tanjungbulan, Kecamatan Kasui Kabupaten Waykanan, Lampung, tubuh lemah seorang mahasiswi berusia 20 tahun dibaringkan untuk terakhir kalinya di tanah kelahirannya. SL, bukan hanya pulang dalam sunyi—ia pulang dalam duka yang tak terucap, membawa serta bayi mungil yang bahkan tak sempat menangis saat dilahirkan.
Di pemakaman kecil kampungnya, langit seperti ikut menunduk. Isak tangis ibu kandungnya terdengar memecah keheningan, mencabik-cabik hati siapa pun yang mendengarnya. Tak ada kata yang bisa menggambarkan kehilangan seorang anak sekaligus cucu dalam waktu bersamaan.
SL dikenal sebagai gadis yang tenang, tak banyak bicara, dan jarang mengeluh. Tapi siapa sangka, di balik sikap diamnya, ia sedang berjuang sendiri melawan ketakutan, rasa sakit, dan keputusasaan.
“Dia nggak pernah cerita soal kehamilannya… kami semua shock waktu dengar kabar dia meninggal. Apalagi ternyata karena melahirkan sendiri di kamar kos,” ungkap salah satu teman dekat korban yang enggan disebutkan namanya, saat diwawancarai melalui pesan singkat.
Menurutnya, SL selama ini tampak seperti gadis biasa yang fokus kuliah. “Kadang aku ngerasa dia sering murung akhir-akhir ini, tapi dia cuma bilang lagi capek kuliah. Nggak nyangka ternyata dia sedang hamil sendirian… kami semua terlambat tahu,” tambahnya dengan nada menyesal.
Kematian SL awalnya dikira akibat aborsi. Namun polisi kemudian memastikan: SL meninggal karena pendarahan hebat usai melahirkan sendiri, tanpa bantuan medis, di kamar kosnya di Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.
Tragisnya, bayi perempuan yang baru dilahirkan itu dibuang ke sungai oleh sang kekasih, Ferdi Dwi Saputra Sarbayu, yang kini telah ditahan polisi dan ditetapkan sebagai tersangka.
Kapolsek Kedaton, AKP Budi Harto, menjelaskan bahwa korban sempat dilarikan ke Klinik Kosasih. Namun, tak ada tenaga medis di sana. SL kemudian dibawa ke RS Bhayangkara, tapi sudah dalam kondisi tak bernyawa.
Jasad bayinya ditemukan Sabtu pagi (21/6/2025) di aliran sungai Tegineneng, Lampung Tengah. Bayi itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa—sunyi, seperti ibunya yang tak pernah meminta tolong dengan suara.
Ketakutan yang Membungkam, Tekanan Sosial yang Membunuh
Banyak yang bertanya-tanya, mengapa SL tak meminta bantuan? Mengapa ia memilih diam, bahkan hingga melahirkan sendiri di kamar sempit itu?
“Takut. Aku yakin dia takut dihakimi… takut keluarganya malu. Apalagi dia perempuan,” kata teman korban, suaranya terdengar gemetar.
Ketakutan akan stigma seringkali lebih mematikan daripada luka fisik. Dalam masyarakat yang cepat menilai dan lambat memahami, perempuan muda seperti SL terpaksa menanggung semuanya sendirian.
Pesan Sunyi dari Kamar Kos
Kisah SL bukan hanya tentang kematian seorang mahasiswi dan bayinya. Ini adalah cerita tentang ketidakpekaan kita terhadap suara-suara kecil yang nyaris tak terdengar—tentang perempuan-perempuan muda yang memilih diam karena takut, dan pada akhirnya kehilangan segalanya.
SL kini telah dimakamkan. Di bawah langit malam Kasui yang tenang, ia tidur bersama bayinya yang tak pernah sempat diberi nama. Dan bagi kita yang masih hidup, kisah ini adalah pengingat bahwa di balik dinding kamar kos atau senyum teman satu bangku kuliah, bisa saja ada seseorang yang sedang berteriak dalam diam, meminta diselamatkan.
“Aku yakin dia bukan nggak mau minta tolong. Dia cuma nggak tahu harus minta tolong ke siapa, dan bagaimana caranya tanpa dihakimi.”
SL sekarat dalam diam, dan bayi yang dilahirkannya pun tidak sempat menangis. Suara pertama yang seharusnya mengisi kamar kecil itu digantikan oleh keheningan yang memekakkan jiwa. Lebih tragis lagi, bayi perempuan itu dibuang ke sungai oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab dan menjaga—kekasihnya sendiri, yang kini ditetapkan sebagai tersangka.











