Tangis di Tengah Sunyi: Kisah Bayi Perempuan yang Ditemukan Hidup di Lubang Bekas Septic Tank

Tangis di Tengah Sunyi: Kisah Bayi Perempuan yang Ditemukan Hidup di Lubang Bekas Septic Tank

Malam di Dusun Sriwidodo, Pekon Wonoharjo, Kecamatan Sumberejo, Tanggamus, semula berjalan seperti biasa. Angin hanya menyisakan suara dedaunan yang bergesekan pelan. Tidak ada yang mengira, di balik kesunyian itu, ada kehidupan kecil yang sedang berjuang bertahan.

Sekitar pukul 23.30 WIB, Mardiansah, seorang warga setempat, mendengar suara lirih dari belakang rumahnya. Bukan suara ayam, bukan pula suara kucing. Suara itu begitu lemah seperti tangisan yang tertahan.

Rasa penasaran bercampur cemas membuatnya melangkah mendekat. Senter kecil di tangannya diarahkan ke lubang bekas septic tank sedalam tiga meter. Saat itulah dadanya mendadak sesak.

Di dalam kegelapan lubang itu, seorang bayi perempuan tergeletak, kecil, lemah, berselimut luka, namun masih bernapas.

Tangannya bergetar saat berusaha memanggil tetangga lain. Beberapa orang datang, sebagian tak kuasa menahan haru. Ada yang menutup mulut, ada yang menunduk, tidak percaya ada bayi yang baru satu hari dilahirkan harus merasakan dinginnya tanah dan gelapnya lubang.

Ari-ari masih menempel di tubuh mungil itu.

Dengan hati-hati, warga mengevakuasi sang bayi. Tubuhnya memar di beberapa bagian—lutut kanan, lutut kiri, juga hidungnya. Namun matanya masih terpejam damai, seolah percaya bahwa malam itu ia akhirnya diselamatkan.

Bidan desa datang memberikan pertolongan pertama. Doa-doa dipanjatkan tanpa suara. Semua orang seolah menjadi orang tua bagi bayi itu pada malam tersebut.

“Alhamdulillah, kondisinya stabil,” begitu kabar yang akhirnya membuat napas warga sedikit lega.

Polisi datang melakukan olah tempat kejadian. Pertanyaan bermunculan: siapa orang tuanya? Mengapa ia ditinggalkan? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, bayi itu memilih hidup—di tengah dingin, gelap, dan sepi yang mestinya bukan tempat pertama baginya melihat dunia.

Kisahnya menyebar cepat. Di balik keprihatinan, ada pelajaran yang mengetuk nurani: bahwa setiap anak yang lahir ke dunia berhak disambut dengan pelukan, bukan ditinggalkan di lubang sunyi.

Malam itu, di Tanggamus, sebuah tangisan kecil mengubah banyak hati orang dewasa.

Ia mungkin belum memiliki nama.

Namun ia sudah memiliki cerita tentang perjuangan hidup paling awal, dan tentang orang-orang yang, meski bukan darah dagingnya, mau menyelamatkannya.

Dan masyarakat berharap satu hal: kelak, ketika ia dewasa dan mendengar kisah ini, ia tahu bahwa pada malam gelap itu, banyak orang memilih menjadi cahaya untuknya.

 

Tinggalkan Balasan

error: Berita Milik GNM Group