Maling “Yang Sah”, Ngopi Pahit Bareng KWRI

Maling “Yang Sah”, Ngopi Pahit Bareng KWRI
Seno

“Maling yang satu ini ternyata sah. Meskipun ketahuan, nggak bakal dipenjara,” celoteh kawan di rumah makan Wiro Sableng, Banjit.

Aku yang mendengar hanya tersenyum, tapi masih bingung mau menanggapinya. Dalam benakku berputar pikiran, maling seperti apa, kok bisa sakti begitu?

“Gimana mau dipenjara. Tapi ingat, bukan copas, itu plagiat namanya,” lanjut kawan sambil nyeruput kopi manisnya. Satu batang rokok dinyalakan.

Terlihat tenang dan nyaman dengan hisapannya. Asapnya perlahan hilang di langit-langit, seperti mereka yang juga nyaman dengan cara curangnya, meski membodohi rakyat. Tapi ingat, semua akan hilang dimakan waktu.

“Aku tahu, itu pasti maling ilmu kan? Iyalah, nggak mungkin dipenjara. Dalam dunia wartawan seharusnya gitu, bukan cuma bisa copas. Apalagi titik dan komanya aja nggak berubah,” sahut sahabat yang duduk bersila, berseberangan satu kawan dariku.

“Tapi sekarang,” lanjutnya dengan tenang, “kadang sudah merasa pintar. Modal gertak, tanpa menulis panjang lebar pun orang yang salah bisa ciut.”

“Nggak zaman lagi numbur-numbur, apalagi dalam tulisan dicampur pendapat sendiri terus ditambah pasal-pasal. Lihat media besar, mereka nggak main pasal begitu. Biar orang takut kali, padahal kita ini bukan hakim, bukan polisi,” timpal Ketua KWRI Way Kanan, yang akrab dipanggil Udo, seraya menyodoriku sebungkus rokok filter putih. “Ganti dulu rokokmu,” katanya.

Aku bengong. Maksudnya apa ‘ganti rokok’? Ganti gaya bicara, atau ganti cara berpikir?

Padahal seingatku, aku cuma ngajarin mereka menulis yang benar—jangan jadi wartawan copas rilis, apalagi mentah-mentah dari instansi.

“Jangan marah,” ujar Udo sambil terkekeh. “Aku dulu juga sering nyuri ilmumu. Tapi aku belajar, biar bisa punya tulisan dengan ciri khas sendiri.”

Aku hanya tersenyum. Mana mungkin aku marah pada orang yang sudah kuanggap kakak.

Aku biarkan Udo ngoceh panjang lebar, sementara aku memilih menikmati kopi pahit yang tersaji. Pahitnya seperti nasib jurnalis yang benar-benar menjalankan fungsinya—mengerti tugasnya.

Karena sekarang, pejabat lebih takut pada wartawan yang asal nulis tapi gertaknya mematikan.

Ah, entahlah… dunia sudah berubah. Tidak seperti dulu, saat aku masih asyik di lapangan—belajar memahami arti wartawan sejati.

Bukan wartawan bergaya perlente dengan seragam mentereng dan sedikit gertak.

Ya sudahlah. Mungkin zaman memang sudah berbeda. Apalagi, kata Udo, tahun depan ada sekitar satu miliar anggaran yang bakal terpangkas.

Tinggalkan Balasan

error: Berita Milik GNM Group