“Aneh bin ajaib, anggaran 2023 kok baru terkuak. Apa nggak ada temuan audit BPK,” celetuk kawan, sambil ngelap tangan berminyak di meja seruit Cebex Kotabumi.
Aku masih sibuk ngulek sambal terasi, senyum-senyum saja. Belum tahu arah omongannya mau kemana.
“Lho, apa yang aneh? Bisa aja kan masalahnya baru ketahuan, meski udah dua tahun jalan. Atau jangan-jangan ada unsur lain yang sengaja ditutupin?” sahut sahabat, mulutnya penuh pindang kepala baung. Lalapan jengkol tua dikunyahnya sampai bunyi krak! keras.
Bunyi jengkol itu kayak alarm. Alarm korupsi. Ingatanku langsung melayang ke kasus dana hibah KPU Lampung Utara yang mandeg. Duit miliaran, laporan audit BPK udah jelas, tapi entah kenapa berkasnya seolah dikunci rapat. Seakan ada tangan gaib yang mengatur: siapa boleh masuk, siapa wajib diam.
Aku manggut-manggut, pura-pura fokus ke seruit. Padahal dalam hati getir. Karena tahu, cerita seperti ini udah jadi “menu wajib” tiap tahun. Sama kayak sambal terasi yang pedasnya nggak pernah berubah, korupsi pun rasanya tetap sama: menyengat, bikin panas, tapi anehnya banyak yang ketagihan.
“KPU itu kan udah jelas. Hibah miliaran, salah guna, dan BPK udah hitung kerugian. Tapi sampai hari ini kok mandeg. Apa karena yang main bukan orang kecil?” celoteh sahabat, nadanya makin naik.
Kawan di sebelahnya nyengir, “Heh, jangan sok polos. Semua orang juga tahu, kalau kasus gede, biasanya yang kena cuma pion. Yang di atas? Nyantai. Bisa nongkrong di kafe, bisa main golf.”
Kami bertiga tertawa getir. Tawa yang pahit. Karena kenyataannya memang begitu.
Aku menaruh seruit di piring, sambil ngeliatin sambal yang masih mengepul. Bau terasi itu tiba-tiba mengingatkanku pada berita kemarin BPBD Lampung Utara digerebek Tipikor. Katanya soal anggaran makan-minum 2023. Anggaran makan, tapi ujung-ujungnya malah bikin aparat datang “makan siang” di kantor BPBD.
“Hei, jangan bengong! Hari ini makan-minum 2023, besok 2024 gimana? Apa mulus juga? Atau nanti meledak lebih besar?” sergah kawan, sambil meraih jus jeruk di depannya.
Sruuuppp… jus jeruk itu langsung bikin matanya nyipit. Kecut. Asam. Sama persis dengan wajah pejabat yang lagi diperiksa Tipikor. Bedanya, kalau jeruk bisa disruput habis, kasus korupsi kadang malah dibuang, dibiarkan basi.
“Begini loh,” sahabat menaruh sendok, “korupsi di negeri kita itu kayak pindang baung. Semakin lama direbus, makin empuk. Cuma bedanya, kalau pindang bisa bikin sehat, korupsi justru bikin rakyat makin sakit.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk. Karena faktanya, rakyat cuma jadi penonton. Kita hanya bisa nyruput sambal, makan seruit, dan berspekulasi, sementara yang punya kuasa bisa atur jalan cerita.
Di meja kami, suara obrolan bercampur dengan deru motor di luar. Kotabumi sore itu terasa panas. Tapi panasnya masih kalah dengan bara pertanyaan, berapa lagi anggaran daerah yang bakal digerogoti? Dan siapa lagi yang bakal berpura-pura tak tahu?













