Opini
Oleh: Gian Paqih
Lampung Utara — Dunia digital sejatinya diciptakan untuk mendekatkan, bukan memecah. Tapi belakangan ini, ruang maya di Kabupaten Lampung Utara justru dipenuhi kabar burung, tudingan tak berdasar, dan serangan personal tanpa identitas jelas. Semuanya bersumber dari satu tempat: akun anonim di media sosial.
Salah satu grup Facebook bernama “Lampung Utara Bangkit Bersama” mendadak menjadi sorotan. Grup ini beranggotakan lebih dari 29.000 orang. Namun, alih-alih menjadi ruang diskusi yang sehat, grup ini justru diracuni oleh akun-akun tak bertanggung jawab yang rutin menyebar informasi menyesatkan.
Mereka menulis dengan nada sinis, menyindir “pejabut” yang diduga berselingkuh, hingga menuding kebijakan revitalisasi pasar sebagai proyek bermasalah. Semua ditulis dengan gaya menggiring opini, namun tanpa fakta, tanpa nama, tanpa bukti. Yang ada hanya hujatan, fitnah, dan asumsi liar.
Akun Anonim: Senjata Tanpa Wajah
Akun anonim di media sosial kini bukan hanya pengganggu, tapi telah menjelma sebagai senjata pembunuh karakter. Mereka bebas menyerang siapa pun: pejabat, warga biasa, bahkan tokoh masyarakat. Cukup dengan satu status, reputasi seseorang bisa hancur. Rumah tangga retak, nama baik tercoreng, pekerjaan terancam.
Parahnya, akun-akun ini saling menanggapi satu sama lain, seolah sedang bermain peran dalam drama digital. Yang paling menyedihkan, publik pun ikut terseret arus. Komentar datang bertubi-tubi, membentuk opini publik seolah semua yang ditulis adalah fakta.
Praktisi Hukum: Diam Bukan Solusi
Dr. Suwardi, S.H., M.H., CM., CPLE, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), angkat bicara terkait fenomena ini. Ia menyesalkan minimnya tanggung jawab dari pemilik akun anonim maupun penyedia platform media sosial.
“Jangan remehkan dampaknya. Banyak korban yang mengalami tekanan mental berat, depresi, bahkan trauma berkepanjangan. Ini bukan main-main,” ujar Suwardi, Rabu (23/7/2025).
Lebih jauh, ia mempertanyakan sikap pasif dari pihak platform seperti Facebook. Menurutnya, mereka seharusnya memiliki kemampuan untuk melacak akun anonim melalui IP address, email, atau nomor telepon.
“Kalau mereka terus membiarkan, ini bisa jadi preseden buruk. Platform juga bisa digugat jika terbukti membiarkan konten merugikan tersebar luas tanpa penanganan serius,” tegasnya.
Ke Mana Admin Grup Facebook Itu?
Data yang dihimpun Gentamerah.com mengungkap fakta tak kalah miris: grup “Lampung Utara Bangkit Bersama” ternyata tak lagi memiliki admin aktif. Akun yang mengelola grup ini sudah tidak bisa diakses, sehingga grup berjalan tanpa kontrol. Ibarat rumah tanpa tuan, siapa pun bisa masuk, berkata sesuka hati, lalu pergi tanpa jejak.
Ruang Digital Butuh Etika dan Empati
Di balik satu komentar bernada sinis, bisa ada satu keluarga yang hancur. Di balik satu unggahan penuh fitnah, bisa ada kehidupan yang berubah selamanya. Dunia maya bukan ruang tanpa batas. Di dalamnya, ada etika, ada hukum, dan ada manusia lain yang punya rasa.
Sudah saatnya pengguna media sosial, terutama di daerah, mulai menyadari kekuatan kata-kata yang mereka tulis. Jangan biarkan akun anonim terus menjadi senjata bebas yang melukai siapa saja tanpa konsekuensi.
Dan untuk para korban, jangan diam. Hukum ada untuk melindungi, dan kebenaran harus terus disuarakan. Karena jika terus dibiarkan, maka ruang digital akan kehilangan nilai kemanusiaannya—dan itu adalah kerugian bagi kita semua.
Saatnya Semua Pihak Bertanggung Jawab
Fenomena akun anonim yang meresahkan ini bukan semata tanggung jawab individu. Ini adalah tanggung jawab bersama: pengguna, platform media sosial, aparat hukum, hingga institusi pendidikan. Jika kita terus membiarkan ruang digital dikuasai oleh “hantu-hantu” tak bertanggung jawab, maka kita sedang menciptakan generasi yang alergi terhadap kebenaran dan kebal terhadap empati.
Institusi seperti kampus, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah perlu masif mengedukasi publik soal literasi digital dan etika bermedia sosial. Jangan biarkan masyarakat terjebak dalam euforia kebebasan tanpa arah, yang justru menciptakan iklim digital yang beracun.
Kepolisian juga harus proaktif, membuka kanal aduan siber yang benar-benar bekerja, bukan hanya simbolik. Jika satu saja pelaku penyebar fitnah berhasil diungkap dan ditindak secara hukum, maka itu akan menjadi sinyal kuat: anonimitas tidak berarti kebal hukum.
Jangan Jadi Penonton
Kita, sebagai warga digital, juga punya pilihan. Saat melihat unggahan tanpa identitas yang menyudutkan seseorang, kita bisa memilih untuk tidak menyebarkannya. Saat melihat komentar penuh hujatan, kita bisa memilih untuk tidak menambahkan bara dalam api.
Lebih baik lagi, kita bisa melaporkan unggahan tersebut, atau bahkan meninggalkan grup yang sudah tak sehat. Kita tak harus jadi pahlawan dunia maya, cukup jangan jadi bagian dari kerusakannya.
Dari Lampung Utara, Untuk Semua
Apa yang terjadi di Lampung Utara bisa terjadi di mana saja. Di kota-kota kecil, akun anonim seringkali dianggap hiburan, tempat meluapkan frustrasi, bahkan jadi senjata politik menjelang pemilu. Tapi ingat: korban dari unggahan fitnah itu adalah manusia nyata—dengan keluarga, anak, pasangan, dan masa depan.
Sudah waktunya kita menata ulang bagaimana kita berinteraksi di ruang digital. Sudah waktunya berkata: cukup sudah.













