“Mafia gas mulai main lagi. Bahkan sampai nyiptain sampai ke warga biasa. Biar seolah berbagi. Edan, permainan makin rapi. Kalau pemainnya masih yang lama itulah,” celetuk kawan di warung sosis samping gereja Banjit, Waykanan.
Aku, yang dari tadi cuma nyruput kopi pahit seduhan ayukanku, memilih jadi pendengar setia. Empat kawan lain masih sibuk scroll-scroll HP, seolah obrolan kami kalah menarik dibanding video receh.
“Ini cuma cari aman sementara. Abis itu ya balik ke permainan lama. Pangkalan baru itu cuma kedok,” timpal sahabat yang bicara sekenanya, jemarinya tetap asyik scroll, ketawa-ketawa kecil entah karena omongannya sendiri atau video warga mandi di kubangan jalan rusak.
“Ngantar LPG ke titik sesuai aturan itu jauh. Perlu ongkos. Peduli setan mau nabrak aturan apa. Yang penting bisnis jalan, duit ngumpul,” sahut kawan lain yang duduk tepat di depanku, satu kakinya naik ke sofa empuk.
Empuknya kayak duit mafia, entah mafia gas atau mafia MBG. Ngomong MBG, banyak yang mubazir juga. Pernah satu kepsek curhat, dari 150 murid, yang makan nasi yang katanya ‘bergizi’ itu paling banyak 20 orang. Sisanya buang.
Gimana mau makan? Lauknya secuil, sayurnya hambar, tempenya cuma formalitas.
“Heh, kita lagi ngebahas gas, bukan MBG. Meski ya… sama aja: sama-sama ngeruk keuntungan. Rakyat cuma alat. Nih ya, biar ada alasan gas itu ‘diterima warga’, pangkalan baru, yang rupanya cukup dua kali dapat kiriman. Tapi berhasil ngumpulin KK dan KTP. Katanya buat data jadi anggota penerima gas,” sahabatku ngakak lebar.
“Jelas, KK dan KTP itu buat dasar pangkalan lama. Kalau mereka seolah-olah sudah membagi ke warga titik pangkalan. Karena pangkalan itu akan Kembali yang lama, ini Cuma permainan Bro,” sahut kawan, sambil nyeruput kopi manisnya.
Aku melongo.
Dalam kepala cuma satu, Gas kok ada anggotanya?
Lha kalau ada warga yang baru mau beli dan nggak masuk daftar ‘anggota’, ya wassalam. Dibilang sudah tutup, kuota habis, anggota penuh.
Aku mau komentar tapi takut salah. Bisa-bisa dibilang sok tahu. Jadi, aku memilih diam, jadi penonton setia orang-orang yang gemar menikmati cuan dari bisnis tipu-tipu rakyat.
Dalam hati aku cuma gumam, yang penting mereka senang.
Apalagi ada kabar jalan Baradatu–Banjit mau diperbaiki tahun depan. Tapi katanya bukan dari daerah, tapi dari pusat.
Pusat mana? Ya cuma mereka yang tahu.
Sekarang aja sudah tarik-menarik kepentingan.
Jangan-jangan nanti “kecelek” lagi, jalan belum tentu diperbaiki, tapi isu perbaikan dipakai buat bikin rakyat senang sementara.
“Lho, gas kok pakai anggota? Itu kan hak semua warga. Harga HET buat semua, bukan buat yang terdaftar doang. Kalau yang miskin nggak masuk anggota, dia nggak bisa beli? Aneh banget,” sahabatku meninggikan suara.
Aku dalam hati bilang, waduh, tanda diskusi mulai panas.
Tapi wajar, sudah mau jam 12. Perut protes.
Aku pamit. Kutinggalkan mereka yang masih asyik membahas pangkalan gas, dapur EmBeGe, dan segala bisnis yang makin gurih hasilnya, peduli setan sama aturan.













