Oleh : Bimo Seno
Aku hanya bisa menyairkan doa-doa
tentang segala yang retak di dada
tak kutanam kutukan pada langit
biarlah semesta sendiri yang mencatat pahit
Datang itu tanpa salam
tanpa mata yang sempat singgah
bahkan jemari pun lupa
bagaimana cara menyentuh arah
Diam berdiri seperti bayang
sedang hujan di luar masih jatuh perlahan
dan aku hanya menjadi dinding
yang belajar menyimpan gema tanpa pertanyaan
Entah apa yang memadamkan musim
hingga cahaya tak lagi mengenali pulang
sedang bertahun-tahun silam
langit begitu teduh ketika sepasang langkah berjalan seimbang
Aku tak lagi pandai menebak
apakah bumi sedang disihir luka
atau hanya manusia
yang terlalu jauh meminum gemerlap sementara
Sebab ada mata
yang kini asing memandang hujan
padahal dahulu
ia paling hafal letak teduh di bahuku
Barangkali memang ada kabut
yang membuat arah kehilangan nama
atau mungkin
gemuruh dunia terlalu bising
hingga nurani tertinggal di persimpangan senja
Aku tidak ingin menggugat siapa-siapa
tidak pula meminta langit menurunkan murka
aku hanya ingin
dua cahaya kecil itu tetap percaya
bahwa kasih tidak selalu lahir dari kemenangan
Maka setiap malam
kubiarkan sajadah memeluk lututku
sementara doa-doa berjalan pincang
membawa serpihan harapan menuju langit-Mu
dan bila benar
ada tangan asing yang menanam luka di musim ini
biarlah waktu sendiri
yang membuka topeng di hadapan takdir
Aku terlalu lelah mengejar jawaban
hingga kini hanya memilih diam
sebab beberapa kehilangan
memang tidak datang untuk dimengerti
melainkan untuk diajarkan cara berserah paling dalam
Namun di sela hening yang nyaris runtuh
aku masih menitipkan satu harap kecil pada semesta:
yang tersesat
masih sempat menemukan jalan pulang
sebelum seluruh cahaya
benar-benar padam !
dan Murka penguasa tiada obatnya













