“Lagi marak kayaknya penggerebekan penimbun BBM. Lah, selama ini ke mana, Pak?” celetuk seorang kawan di warung perbatasan Way Kanan – Bukit Kemuning (Lampung Utara).
Aku yang sejak tadi menikmati kopi pahit tanpa gula, ditemani rokok filter hasil ngutang, hanya diam menyimak. Kawan itu sempat terdiam, lalu kembali membuka suara.
“Iya, selama ini kan SPBU ‘pindah’ ke sepanjang jalan lintas. Di depan POM itulah mainnya, aman-aman saja. Malah di SPBU-nya sering habis ketika orang mau beli.”
Sahabat yang duduk santai, dengan kaki diselonjorkan ke kursi, ikut menimpali. Matanya sempat melirik ke arahku.
Aku hanya tersenyum tipis.
Owalah… soal cor-mengecor toh ini. Mereka bukan nimbun, cuma ‘nampung’ banyak saja.
“Ngapa lu senyum-senyum? Nggak tahu ya, sudah beberapa kabupaten di Lampung ini Polresnya lagi gencar gerebek penampungan BBM. Bahkan ada yang lagi jalan dicegat karena bawa BBM bersubsidi pakai Colt Diesel,” ujar kawan, sambil meraih bungkus rokokku.
Hemm… rokok tinggal sebatang, disikat pula.
Padahal itu rokok ilegal hasil ngutang juga.
“Iya, aku tahu. Digelandang ke rumahnya, ternyata berton-ton BBM di gudangnya. Tapi pertanyaannya, apa cuma dia sendiri di kabupaten itu? Di tempatku banyak. Malah ada ‘uang cor’ di luar harga BBM. Namanya pegawai juga, ya ikut keciduk,” timpal sahabat, nada bicaranya mulai meninggi.
Yang tadi cuma satu kaki naik ke kursi, kini dua-duanya nangkring. Sambil menyebut satu per satu nama yang katanya pemain BBM subsidi di daerahnya.
Aku tetap tersenyum. Nama-nama yang disebut bukan hal baru. Bahkan ada pemilik SPBU yang konon dapat istri dari tempatnya “ngecer” BBM subsidi di kampung. Biar aman, katanya—yang jalan usaha, si istri muda.
Jadi yang main bukan cuma pekerja SPBU. Pemiliknya malah lebih lihai.
Apa ini dipedulikan APH?
Ah… kayaknya tidak. Toh selama ini aman-aman saja.
“Halah, kalau SPBU itu lurus-lurus saja, kamu nggak dapat jatah BBM gratis, ya nggak?” seloroh sahabat, disambut tawa ngakak.
Kawan itu cuma tersenyum tipis.
“Halahh… itu timbang rasa namanya,” jawabnya ringan, sambil mengisap rokok dari bungkus milikku.
Ah, sudahlah. Aku pamit. Perut mulai keroncongan.
Ingat di rumah, nyonya sudah merendang jengkol kesukaanku.
Takut kalau kelamaan di warung ini, bukan cuma kopi yang habis—
bisa-bisa aku ikut ketempuhan jadi bandar pula. Padahal… duit saja tak pegang. ***













