Oleh : Bimo Seno
Malam itu kembali datang tanpa suara.
Dan seperti biasa, ingatan pelan-pelan merayap masuk ke kepalaku tanpa permisi.
Di antara sunyi yang menggantung, terlintas sosok itu dengan jelas.
Bapakku.
Duduk diteras rumah, dengan rokok lintingan yang tak pernah jauh dari jemarinya.
Asapnya naik perlahan ke udara malam, lalu hilang tanpa bekas.
Persis seperti waktu yang diam-diam merenggut beliau dari hidupku.
“Belajar wae seng pinter…”
Kalimat itu sederhana.
Pendek.
Namun entah kenapa kini terdengar lebih berat dari dunia yang sedang kupikul.
Malam itu aku pulang dengan kebingungan yang belum sempat kupahami sendiri.
Perguruan tinggi yang kupilih ternyata salah.
Namun, semester sudah berjalan.
Aku takut mengecewakan bapak.
Tapi bapak hanya diam.
Menatap halaman rumah yang disinari rembulan pucat.
“Wes lanjutke wae… ra sah mikir bayaran. Sesok bapak adol kebo.”
Aku menunduk.
Tak sanggup menjawab.
Jalanku tak seperti kemauan Bapak.
Terlintas dalam benak, aku ingin keluar dari hiruk-pikuk kuliah.
Membantu bapak di sawah, bergelut dengan lumpur.
Di rumah yang dindingnya mulai rapuh itu, aku tahu keadaan kami tidak baik-baik saja.
Namun bapak selalu menyembunyikan lelahnya seperti langit menyembunyikan hujan.
Bapak berdiri pelan.
Meraih golok yang terselip di balik pintu belakang.
Praaaak…
Bambu penyangga pagar itu terbelah dua.
Dan dari dalamnya berhamburan uang receh, beberapa lembar lusuh yang bahkan nyaris tak layak disebut simpanan.
“Iki sesok ga sangu.”
Tangannya yang kasar mengulurkan uang itu kepadaku.
Saat itu aku ingin menangis sekeras-kerasnya.
Tapi lidahku kelu.
“Matur sembah nuwun, Pak…”
Hanya itu yang keluar.
Bapak memelukku erat.
Dan malam mendadak terasa sangat panjang.
“Sesok nek koe mangkat… bapak ra eneng. Seng penting sungkem mamakmu.”
Aku tak tahu kenapa kalimat itu terus menghantuiku sampai hari ini.
Mungkin karena sekarang…
aku benar-benar sudah tak punya tempat untuk pulang.
Bapak sudah tiada.
Mamak pun menyusul pergi.
Dan hidup yang kupikir dulu berat, ternyata belum seberapa dibanding hari ini.
Rumahku yang perlahan sepi.
Masalah datang tanpa jeda.
Aku mencoba bertahan seperti bapak dulu bertahan menghadapi hidup.
Tapi aku gagal.
Aku tak sekuat bapak.
Bapak mampu menyimpan lapar tanpa mengeluh.
Mampu menyembunyikan sedih tanpa menyalahkan siapa pun.
Sedangkan aku…
Badai yang menghamtam bertubi tak mempu kulewati
bahkan limbung tanpa rasa.
Kadang di tengah malam aku hanya duduk sendiri.
Menahan sesak yang tak tahu harus kuceritakan kepada siapa.
Aku rindu bapak.
Rindu duduk diteras itu lagi.
Rindu suara jangkrik malam.
Rindu asap rokok lintingan yang menari pelan diterpa angin sawah.
Karena kini,
tak ada lagi pundak tempatku runtuh.
Dan di antara riuh dunia yang terus memaksaku kuat,
aku hanya seorang anak lelaki dari seorang anak
yang diam-diam masih menangis mencari bapak.
Banjit, 07/05/2026













