Oleh : Bimo Seno
Ayah,
kerinduanku berdarah
jalanku mematah tanpa kata
bahasaku luruh tanpa kalimat
ingin bersandar… pada bahumu
Ayah,
doa-doa telah kulepas ke langit
tanpa perlu tahu kapan kembali
aku hanya menunggu
tanpa menghitung
Ayah,
dulu ada pundak untuk runtuh
tanpa perlu menjelaskan apa-apa
kini aku diam
pada sandaran yang tak bernama
angin malam mengikis perlahan
yang tersisa di tubuh ini
dan bayang-bayang
menyimpan apa yang tak sempat pulang
Ayah,
yang terlepas kini berarak tanpa arah
dan aku berdiri di bawahnya
tanpa ingin bertanya lagi
kesunyian menjadi lumrah
sejak namamu tak lagi hadir
bahkan dalam mimpi
dan jika suatu saat
kau sempat singgah sebentar
kau…
akan mengerti
Banjit, 06/04/2026













