Oleh : Bimo Seno
“Mak… iki anakmu.”
Ucapku lirih di atas pusara itu.
Pelan sekali.
Sampai aku sendiri ragu apakah suaraku benar-benar keluar atau hanya pecah di dalam dada.
Aku tahu mamak tak mungkin menjawab.
Aku tahu tanah merah itu tak akan bergerak.
Tapi malam dan hidup telah terlalu sesak untuk kupendam sendiri.
Maka biarlah.
Angin sore berembus dingin menyentuh tubuhku yang mulai letih.
Tanganku menekan tanah makam yang mulai mengeras dimakan waktu.
Nisan itu masih berdiri, sederhana, dengan nama mamak tertulis di sana.
Lengkap dengan binti-nya.
Dan entah kenapa, setiap membaca nama itu…
dadaku seperti ditarik kembali menjadi anak kecil yang dulu selalu pulang mencari pelukan.
Kini tak ada lagi tempat pulang.
Air mataku jatuh begitu saja.
Aku bahkan tak peduli orang-orang yang lalu lalang di pinggir makam memandangku aneh.
Aku hanya ingin duduk sebentar bersama mamak.
Sebab dunia di luar sana terlalu gaduh.
Tempat yang dulu kurawat dengan seluruh letih
kini terasa seperti lorong yang tak mengenalku lagi.
Kata itu terus dilemparkan kepadaku seperti batu.
Seakan yang tampak hanya angka-angka,
sedang peluhku luruh tanpa sempat dibaca..
Dan aku…
Ya aku
Aku
Hanya diam bersimpuh
Dalam diamku, bayangan mamak datang perlahan.
Berkebaya hijau.
Wajahnya samar.
Namun senyumnya masih sama—senyum yang selalu menyimpan letih tanpa banyak bicara.
Aku tertunduk.
Entah dosa mana yang sedang dipertontonkan Tuhan di hadapanku.
Entah salah mana yang kini kembali mengetuk kepala.
Aku ingin mengadu.
Tapi lidahku kelu.
Doa-doa yang kuhafal mendadak tercerai berai di kepala.
Yang tersisa hanya sesenggukan dan napas yang terasa berat.
“Mak…”
Hanya itu.
Tak ada kalimat indah.
Tak ada ayat panjang.
Aku terlalu hancur untuk terdengar sholeh.
Aku teringat botol kecil yang kusimpan di rumah.
Air bekas mencuci kaki mamak setiap lebaran tiba.
Masih kusimpan sampai hari ini.
Entah untuk apa.
Mungkin karena aku takut lupa.
Takut benar-benar kehilangan.
Takut tak punya apa-apa lagi untuk dipeluk ketika hidup mulai runtuh satu per satu.
Gerimis turun perlahan.
Aku masih duduk di sana.
Membiarkan bajuku basah.
Membiarkan tanah kuburan menempel di lututku.
Tak ada doa.
Tak ada permintaan.
Aku hanya luruh.
Lusuh yang dinilai tak berguna
kendati diam-diam ingin rebah dan menangis seperti anak kecil.
Sesenggukan….
Ruang terasa hampa.
Langkah terasa gontai.
Dan percaya diri yang dulu kubangun sedikit demi sedikit… kini seperti habis digerus keadaan.
Aku memandangi pusara itu lama sekali.
Berharap ada jawaban.
Namun mamak tetap diam.
Pergiku pulang dengan gontai
Diselimuti malam yang mulai menyapa
Tanpa Cahaya bulan
Tanpa Bintang
Banjit, 07/05/2025













