Sastra  

Bapak, Musim yang Kau Sembunyikan

Bapak, Musim yang Kau Sembunyikan

Oleh : Bimo Seno –

Bapak,
kau bohong tentang kehidupan ini

Dulu kulihat lumpur di kakimu
namun wajahmu tetap serupa langit selesai hujan
tenang…
seolah dunia tak pernah benar-benar berat

Nasi dingin terasa hangat di tanganmu
sayur asin menjadi jamuan paling cukup
dan tawamu selalu pecah kecil
meski sebagian jelas kautelan sendiri

Bapak,
mengapa tak pernah kautunjukkan retak itu padaku?

Mengapa peluh di pematang sawah
kaubiarkan jatuh seperti embun biasa
padahal matahari berkali-kali
membakar punggungmu tanpa ampun

Aku baru mengerti sekarang
bahwa lelaki seusiamu
ternyata pandai menyimpan badai
di balik bau tanah dan tubuh penuh debu

Sakit pun
tak pernah kautaruh di meja rumah

Kau hanya diam sambil menggulung hari
mengikat rumput untuk sapi-sapi
lalu kembali menatap petang
seakan hidup memang harus dijalani
tanpa banyak tanya

Bapak,
mungkin dulu aku terlalu kecil
untuk membaca matamu yang letih

Sebab setiap malam
kau lebih memilih menjadi dinding
daripada menunjukkan bahwa dirimu
juga bisa runtuh kapan saja

Kini setelah langkahku sendiri terseok
aku baru sadar
bahwa bahumu yang tampak biasa itu
ternyata sedang memikul musim
sendirian

Dan aku…
belum sempat belajar
bagaimana caranya tersenyum
seperti dirimu
saat hidup sedang paling kejam.

Banjit, 09/05/2026

Tinggalkan Balasan