Oleh : Bimo Seno
Pada tigaperempat malam
aku kembali mengetuk yang tak berwujud
membiarkan sunyi berjalan lebih dekat
agar gemuruh di dada tak pecah sendirian
Tak banyak kata yang benar-benar utuh
sebagian luruh sebelum sempat terucap
sebagian lagi menggantung
di antara napas dan pasrah
Barangkali memang belum waktunya terang
sebab langit masih sibuk menenun mendung
dan pijarku
masih Kau simpan jauh di balik kabut
Namun aku mulai mengerti
tak semua gelap berarti kehilangan arah
kadang cahaya hanya sedang diajarkan
cara lahir dari luka
Maka kubiarkan malam memanjang
kubaringkan resah di bawah sajadah
hingga suatu waktu
yang redup akan menyala tanpa diminta
Dan ketika fajar benar-benar dibukakan
aku ingin tetap menjadi hamba
yang pernah remuk
namun tak berpaling dari-Mu.
Banjit, 08/05/2026













