Setahun Hamartoni–Romli: Dari Monas ke Ragem Tunas Lampung, Kerja Nyata atau Sekadar Seremoni?

Setahun Hamartoni–Romli: Dari Monas ke Ragem Tunas Lampung, Kerja Nyata atau Sekadar Seremoni?

ADVERTORIAL

Lampura – Tepat setahun lalu, 20 Februari 2025, di bawah bayang-bayang Monas Jakarta, Dr. Hamartoni, M.Si., dan Romli, S.Kom., M.H., resmi dilantik Presiden sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara. Kini, genap 365 hari mereka memimpin Bumi Ragem Tunas Lampung—sebuah perjalanan yang diuji cuaca ekstrem, tekanan ekonomi, dan ekspektasi publik yang tak pernah turun.

Satu tahun memang belum lama dari jatah lima tahun yang diberikan konstitusi. Namun di tengah bencana hidrometeorologi dan dinamika sosial, publik tak lagi menunggu janji—yang dinilai adalah kerja.

Refleksi kinerja setahun digelar di Gedung Pusiban Agung, Selasa (3/2/2026). Sekretaris Daerah Dra. Intji Indriati, M.H., menegaskan momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan evaluasi terbuka atas arah pembangunan.

“Kegiatan refleksi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi menyempurnakan kebijakan serta implementasi program secara berkelanjutan,” ujarnya.

Data yang dipaparkan cukup mencolok. Pertumbuhan ekonomi 2025 menyentuh 5,12 persen, naik dari 4,10 persen pada 2024. Angka kemiskinan turun dari 16,92 persen menjadi 15,78 persen—sekitar 6.920 jiwa keluar dari garis kemiskinan. IPM merangkak dari 71,42 menjadi 72,28, sementara pengangguran terbuka turun tipis dari 5,85 persen ke 5,78 persen.

Di sektor kesehatan, RSUD Ryacudu berbenah. Standar layanan, digitalisasi, hingga sarana prasarana diperkuat. BOR melonjak dari 6,2 persen di 2024 menjadi 21,23 persen di 2025. Ombudsman RI pun memberi Opini Kualitas Tinggi.

Inovasi PAKSU jemput bola administrasi kependudukan menjangkau 150 desa dan kelurahan. Program seragam sekolah gratis menyasar 15.553 siswa baru SD dan SMP, dan ditargetkan 22.632 siswa pada 2026. Puskesmas MIDER mencatat 28.123 kunjungan sejak Maret hingga Desember 2025. Renovasi 438 rumah tidak layak huni juga direalisasikan lewat sinergi APBD dan dukungan pemerintah.

Lampung Utara menegaskan diri sebagai lumbung jagung dan ubi kayu. Produksi jagung mencapai 150.315 ton, ubi kayu 767.435 ton—peringkat kedua di Provinsi Lampung. Hilirisasi diperkuat lewat pembangunan pabrik tapioka swasta dan perluasan tebu 5.893 hektare, dengan 2.700 hektare telah terealisasi. Di perikanan, produksi budidaya dan tangkap menyentuh 9.082 ton, naik 6,74 persen.

Satu tahun telah lewat. Angka-angka berbicara. Kini publik menanti konsistensi, bukan sekadar presentasi. (adv)

Tinggalkan Balasan