Sastra  

Langit yang Enggan Teduh    

   Oleh: Bimo Seno

Langit,
masihkah kautaruh mendung
di bahuku yang mulai retak
sedang langkah ini
tak pernah benar-benar sampai
ke halaman yang disebut tenang

Aku telah lama belajar
menjadi gema yang kalah suara
menjadi daun gugur
yang tak sempat dipungut musim

Hujan itu turun lagi
membasahi tubuh tanpa nama
mengikis dinding-dinding kecil
yang kusebut harapan

Dan lihatlah,
aku masih duduk
di bawah atap bocor-Mu
menghitung reruntuhan cahaya
yang tak pernah utuh singgah

Langit,
jangan tanyakan lagi
mengapa kidungku terdengar patah
sebab sebagian nadanya
telah hanyut bersama arus
yang tak pernah mengerti lapar

Aku tak marah
pada piring yang sering kosong
pada tangan yang selalu kalah
atau pada malam
yang berkali-kali memadamkan mimpi

Mungkin memang begini jalanku—
menjadi lorong panjang
yang terus dilewati dingin
tanpa sempat dipeluk fajar

Namun,
di antara sesak yang nyaris membatu
aku masih menyebut nama-Mu
meski suara ini
tinggal serpihan hujan
di ujung langit yang kelam

Dan bila nanti
cahaya itu benar-benar datang,
biarkan aku tetap sederhana—
lelaki yang pernah remuk
namun tak berhenti menadah langit.

 

Blambangan Umpu, 09/05/2026

Tinggalkan Balasan