Oleh: Bimo Seno
Mulai ku membiarkan
Tentang laku lama yang terbiasa
Cukup membisu dan hening
Sekilas merenungkan
Tubuh ini nyaris tak bernyawa
Dalam langkahku, aku tak lagi bermakna
Aku mungkin beban yang tak pernah selesai
Seolah nafasku pun tak layak dihargai
Jalanku ini memang dengan hasil tak pasti
Namun ternilai dengan nafas yang hampir berhenti
Tak tampak luka di balik diam yang mati
Yang dinilai hanya wujudkan mimpi
Teriang selalu lebih dingin dari hujan tanpa jeda
Menusuk perlahan, mengikis sisa harga yang tersisa
Runtuhku bukan karena dunia terlalu keras menggoda
Tapi di tempat teduh ini tak lagi memberi reda
Acap kali inginku menjadi cukup di mata yang fana
Namun setiap usaha hanya berakhir luka yang sama
Kini hanya bayang yang hidup tanpa rasa
Di tempat yang dulu kusebut tempat kembali
Ridho diri hanya fatamorgana
Hingga tak purlu lagi kau pinta
Semua hanya angan yang sia-sia
Karena aku memang tiada guna
Jika suatu saat tubuh ini hilang tak mungkin dicari
Meski pernah berjuang, walau tak diakui
Dan saat sunyi memanggil namaku pergi
Biarlah aku luruh tanpa harus kembali
— Banjit, tanpa tanggal













