“Apa kabar KPU di daerah temanku ya? Apakah mereka masih baik-baik saja, atau justru sedang menakar nyali di bawah sorotan publik?”
Begitu celetuk kawan, sambil menyeruput kuah bakso, di warung sederhana dekat SPBU, tak jauh dari kantor DPRD Lampung Utara.
Aku hanya diam, menatap cangkir kopi hitam yang sejak tadi menghangatkan tangan tapi tak mampu menenangkan pikiran.
Kami saling pandang, tanpa kata. Hening itu seperti pertanyaan yang menggantung: KPU yang mana? Daerah mana yang kini diguncang?
Kalau ini tentang penyalahgunaan jabatan, pikirku, bukankah ada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu — DKPP?
Mereka, yang katanya, punya kewenangan untuk menegur hingga menjatuhkan sanksi pada penyelenggara pemilu yang tergelincir dari etikanya: KPU, Bawaslu, bahkan individunya.
“Aiih… kenapa kalian cuma bengong sih?” sergah kawan, suaranya meninggi.
“Itu lho, DPRD setempat aja udah gelar audiensi, tapi Ketua Komisi 1 malah terdengar seperti juru bicara KPU, membenarkan yang tampak jelas-jelas salah. Miris banget, kan?”
Aku menarik napas, mencoba mencerna.
“Oalah… ternyata itu toh. Daerah yang rumah sakitnya katanya amburadul, sekarang KPU-nya juga mulai goyah,” gumamku lirih.
“Padahal anggaran mereka, katanya, mengalir sampai Rp40 miliar dari Pemkab. Tapi yang Rp7 miliarnya itu… katanya bukan untuk Pilkada, malah entah dipakai untuk apa.”
“Tapi sudah ada LSM yang melapor ke kejari,” sambung kawan, suaranya pelan tapi tegas.
“Pertanyaannya tinggal satu: berani nggak Kejari? Dan seharusnya sih LSM itu juga bawa perkara ini ke DKPP.”
Sebab, sesuai aturan, dana hibah yang tersisa seharusnya dikembalikan, bukan diutak-atik seenaknya.
Itu tertulis jelas dalam Permendagri Nomor 41 Tahun 2020—yang mengatur pembiayaan pemilihan kepala daerah dari APBD. Bukan untuk “keperluan lain”, apalagi jika tidak transparan.
“Jadi sekarang tinggal adu nyali,” aku menyahut, setengah bercanda tapi penuh makna.
“Siapa yang berani lebih dulu: DKPP atau Kejaksaan? Tapi entahlah, kurasa mereka semua orang hebat, independen—dan katanya, di garda paling depan.”
Lalu kami terdiam lagi.
Di antara suara sendok yang berdenting di mangkuk dan kopi yang mulai dingin, percakapan kami masih tertinggal di udara—seperti nyali yang belum sempat diuji.
