Palembang – Dugaan pemukulan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang bikin geger.
Ade, korban penganiayaan yang juga Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), disebut babak belur setelah dipanggil ke ruang rapat Komisi III DPRD Palembang.
Kepala Inspektorat Palembang, Jamiah Haryanti, mengungkap kronologi mengejutkan di balik kericuhan itu. Menurutnya, Ade dikenal sebagai sosok jujur, tegas, dan idealis. Namun sikapnya yang tak mau asal meng-ACC pencairan dana proyek, justru berujung pada peristiwa pahit.
Masalah bermula dari keluhan salah satu perusahaan rekanan proyek IPAL soal pencairan dana. Aduan itu disampaikan kepada Ketua Komisi III DPRD Palembang, Rubi Indiarta. Sayangnya, aduan hanya berasal dari satu pihak tanpa menjelaskan kondisi lapangan sebenarnya.
“Yang dipersoalkan itu pencairan dana. Padahal masalah utama bukan di PPK, melainkan pemasok modal berinisial T yang ingin ambil untung besar. Mereka menuntut pencairan penuh, padahal pekerjaan belum rampung dan gaji pekerja pun masih banyak yang belum dibayarkan,” ujar Jamiah, Jumat (22/8/2025).
Ade menolak pencairan tambahan karena proyek fisik jauh dari selesai. Namun sikap tegas inilah yang memicu kemarahan. Saat rapat bersama Komisi III DPRD, suasana ricuh. Ade dituding berbagai hal, hingga berujung adu mulut dan kontak fisik.
“Keributan tak bisa dihindari. Ada anggota DPRD yang mencakar, bahkan tenaga ahli Komisi III ikut memukul Pak Ade,” beber Jamiah.
Kasus ini sempat dilaporkan ke Polda Sumsel. Namun, laporan kemudian ditarik dan dianggap tipiring. Kedua pihak akhirnya berdamai di Pemkot Palembang.
“Damai sudah dilakukan, masalah selesai. Kejadian itu sebenarnya sudah dua pekan lalu,” tutup Jamiah.
