Sastra  

Cerita Diujung Senja Yang Rapuh

Cerita Diujung Keterpurukan

                                             Oleh : Bimo Seno

“Yah… beli bakso ya,”
kata anakku yang paling besar,
dengan mata yang tak menuntut—
hanya berharap.

Tangannya kecil, terulur pelan.
Seolah takut permintaannya terlalu besar
untuk dunia yang sedang sempit.

Jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.
Bukan karena marah—
tapi karena aku tahu…
aku tak punya apa-apa untuk diberikan.

Di saku ini,
hanya ada dua ribu rupiah
dan segumpal rasa gagal
yang tak bisa kuhitung nilainya.

Air mataku jatuh diam-diam.
Tak bersuara…
seperti harga diri yang runtuh
tanpa tepuk tangan.

“Ayah belum ambil uang, Nak…
masih di ATM,”
kataku pelan,
berusaha terdengar seperti seseorang yang masih layak dipercaya.

“Ya udah, Yah… gak apa-apa,”
jawabnya.

Lembut.
Terlalu lembut untuk anak seusianya.
Seolah ia sudah belajar mengalah
sebelum sempat hidup sepenuhnya.

Aku menyuruhnya ke warung,
berutang mie instan—
janji akan dibayar malam nanti,
meski aku sendiri tak tahu… dengan apa.

Tanganku meraih ponsel yang retak,
layarnya seperti hidupku—
masih menyala,
tapi pecah di banyak sisi.

Kubuka aplikasi bank.

Rp106.025.

Angka kecil itu
tiba-tiba terasa seperti jurang
yang menelanku bulat-bulat.

“Bisa gak diambil lima puluh…”
gumamku sendiri.

Seolah mesin ATM
punya belas kasihan.

Aku menyalakan rokok.
Asapnya naik perlahan,
lalu hilang begitu saja—
persis seperti harapan yang tak sempat menetap.

“Mana Mbak, Yah?”
suara anak kecilku membuyarkan semuanya.

“Ke warung.”

Tak lama, mereka kembali.
Dua bungkus mie instan di tangan.
Bukan tiga—
karena dunia memang tak pernah cukup murah
untuk orang sepertiku.

Dua mangkuk tersaji.
Uapnya tipis,
tapi cukup untuk menghangatkan kebersamaan—
yang bahkan aku tak pantas menikmatinya.

“Kalau Ayah mau… kita bagi…”

Kalimat itu menancap dalam.
Dalam sekali.

Anak kecil…
tapi sudah mengerti arti kekurangan.

Aku menggeleng pelan.

“Enggak, Nak… itu buat kalian aja.”

Suaraku asing.
Seperti bukan milikku lagi.

Mereka makan perlahan.
Seolah waktu bisa ditarik lebih panjang
agar kenyang tak cepat pergi.

Aku keluar rumah.

Langkahku berat—
seperti tiap pijakan diisi oleh rasa bersalah.

Di teras, bangku kayu tua menunggu.
Catnya mengelupas.
Sama seperti diriku
yang tak lagi utuh.

Angin malam lewat.
Tak dingin,
tapi cukup untuk membuat dada terasa kosong.

Kubuka lagi angka itu.
Rp106.025.

Aku tertawa kecil.

Entah menertawakan hidup,
atau diriku sendiri
yang masih mencoba bertahan di dalamnya.

Dulu…
aku pernah punya hari-hari yang penuh.

Uang datang,
meski tak selalu tinggal.

Aku memberi…
tanpa sempat mencatat.

Dan kini…
yang tersisa bukan kenangan,
tapi kehampaan yang tak bisa dijelaskan.

Seolah semua yang pernah kulakukan
tak pernah benar-benar terjadi.

Aku seperti hujan yang jatuh di laut—
ramai saat datang,
tapi tak pernah dihitung sebagai tambahan.

Yang dekat…
perlahan menjauh tanpa langkah.

Sapaan menghilang.
Tatapan berubah.
Dan aku…
masih di sini,
tapi seperti tak terlihat.

Masih bernapas,
tapi tak dianggap hidup.

Dari dalam rumah,
terdengar tawa kecil anak-anak.

Dan entah kenapa…
tawa itu justru melukai.

Lebih dalam dari lapar.

Aku menunduk.

Lama.

“Kalau aku hilang…
siapa yang akan menyayangi mereka…”

Pertanyaan itu tak butuh jawaban—
karena aku sudah tahu.

Aku tak punya apa-apa lagi,
kecuali satu keinginan sederhana:

mereka bahagia…
meski tanpa aku.

Angin malam kembali datang.
Membawa sunyi yang lebih pekat.

Dan aku…
masih duduk di sini—
bersama sisa-sisa diri
yang perlahan hilang arti.

Aku pernah menggenggam dunia kecilku.
Pernah.

Tapi kini,
semuanya seperti debu
yang lepas satu per satu dari genggaman.

Jejak lama, kenangan yang tertitip—
semuanya memudar
tanpa sempat berpamitan.

Aku berdiri di titik ini,
tanpa pegangan,
tanpa pengakuan.

Hanya ada aku…
dan sunyi
yang terus berbisik pelan:

bahwa yang pernah ada,
bisa hilang…
seolah tak pernah berarti.

 

Banjit, 18/09/2026

Exit mobile version