Oleh : Bimo Seno –
Dalam gelap itu
aku masih meraba sisa-sisa arah
sebab yang redup belum sepenuhnya padam
dan aku…
masih duduk di tempat yang sama
Air mata jatuh tanpa bunyi
seperti malam yang kelelahan memanggul rahasia
sedang doa-doa kecil
tetap kulepaskan ke langit yang mulai terjawab
Aku mulai mengerti
melati itu tak benar-benar pergi
ia hanya terlalu lama
ditidurkan musim yang asing
Embun turun perlahan
membasuh kelopak yang nyaris lupa harum
namun hingga kini
aku belum mendengar namaku kembali tumbuh di bibirmu
Ada gema yang masih tertinggal di dadaku
ribuan tanya yang pecah tanpa suara
tentang apakah yang sempat layu
masih mampu mengenali taman tempatnya pulang
Biarlah…
jika memang ada kabut yang pernah membungkus pandangmu
aku tak ingin menjadi murka
aku hanya ingin langit
mengembalikan bening matamu perlahan
Sebab setelah semua luruh
aku pun tak benar-benar tahu
apakah kelopak yang mulai sadar dari tidurnya
masih akan memilih
hinggap di tanganku yang lama menunggu
Dan andai nanti kau benar-benar terjaga
sedang aku masih sendiri di sudut malam
mungkin aku hanya akan tersenyum lirih
karena pernah mencintaimu
sedalam ini
meski tanpa kepastian dipeluk kembali.
Banjit, 09/05/2026












