Penulis: Bimo Seno
Tetes air mataku
dan dua cahaya kecil dalam hidupku
masih Kau temukan
di ujung sejadah yang mulai usang
kami tak membawa murka
tak pula meminta langit menjatuhkan bara
kami hanya ingin
keadilan yang tak bersuara itu
masih mengenali alamat rumah kami
Malam terlalu panjang
bagi dada yang dipenuhi pecahan tanya
sedang langkah yang pernah kami sebut pulang
kini lebih akrab dengan lorong-lorong asing
Aku diam
anak-anak pun belajar diam
namun isak kecil mereka
sering lebih nyaring
daripada petir yang jatuh di kepala langit
Ada nama yang tetap kami sebut
meski bayangnya semakin menjauh
ada peluk yang masih kami tunggu
meski aromanya telah berubah oleh musim
Dan aku…
lelaki yang mulai retak tanpa suara itu
masih mengetuk pintu-Mu tiap seperempat malam
dengan tangan gemetar
dan hati yang nyaris habis
Jika benar air mata anak yatim
mampu mengguncang arasy-Mu
maka dengarkan pula
tangis dua cahaya kecilku ini
karena mereka belum mengerti
mengapa rumah bisa terasa asing
meski pintunya masih sama
Dan bila kelak Kau bukakan terang
jangan biarkan kami menjadi dendam
cukup jadikan kami
manusia-manusia yang selamat
dari gelap yang nyaris menelan iman.
Banjit, 11/05/2026












