Racun di Balik Nama Bangkit “Lampura Membara”

Racun di Balik Nama Bangkit

“Kau ikut grup Lampung Utara Bangkit Bersama itu?” tanya sahabatku, sambil menyeruput kopi yang tinggal separuh.

Aku menoleh sebentar. “Ikut, tapi sudah lama ku-nonaktifkan notifikasinya. Isinya makin ngawur.”

“Ngawur?” Kawan di seberang ikut menyela. “Itu bukan ngawur lagi. Sudah jadi ladang fitnah berjamaah.”

Obrolan pun mengalir. Di pojok warkop itu, kami—aku, sahabat, dan dua kawan lain—bicara soal grup Facebook yang dulunya dibentuk untuk menyatukan aspirasi warga Lampung Utara. Lebih dari 29 ribu orang ada di sana. Tapi kini, isinya lebih mirip panggung sirkus yang diambil alih badut-badut anonim.

“Lucunya, yang paling laris disukai dan dikomentari justru status yang tanpa data. Cuma modal sindiran dan kebencian,” kata sahabatku lagi.

Aku mengangguk. Di sana, mereka menyebut “pejabut” yang katanya doyan selingkuh. Ada juga yang menyebut proyek revitalisasi pasar sebagai bancakan pejabat. Tapi tak ada satu pun bukti. Hanya status berbalut narasi sinis. Lalu menyeret nama-nama dalam komentar.

“Ini bukan sekadar akun iseng,” ujar kawanku yang paling tua di antara kami. “Ini pembunuhan karakter. Digital. Tanpa darah, tapi korbannya berdarah-darah.”

Ia benar. Di era ini, cukup satu status, satu postingan, satu tangkapan layar—dan hidup seseorang bisa berubah. Reputasi hancur, rumah tangga retak, pekerjaan melayang. Dan yang menulis? Bersembunyi di balik nama samaran, tak pernah dimintai tanggung jawab.

“Mereka saling timpal, saling dukung. Seolah sedang bermain peran,” ucap sahabatku lagi. “Dan yang bikin miris, banyak warga percaya.”

Ya. Rakyat kita, entah karena kecewa atau terlalu lelah berharap, jadi mudah tersulut. Membaca status panjang, langsung percaya. Tak ada cek ulang. Tak ada tanya. Seolah semua yang ditulis adalah wahyu.

Aku menghela napas panjang. “Mereka bilang ini demokrasi. Padahal yang mereka tabur adalah racun.”

Sunyi sebentar.

Lalu kawanku berkata pelan, “Kalau begini terus, bukan Lampung Utara yang bangkit. Tapi kebencian yang makin menjulang.”

Kami terdiam. Di atas meja, kopi hampir habis. Tapi pembicaraan itu masih terngiang.

error: Berita Milik GNM Group
Exit mobile version