Pinjam BRI, Ada “Pungli” Menghantui

Pinjam BRI, Ada “Pungli” Menghantui

“Emang ada aturannya ya, ambil tips dari nasabah yang ingin pinjam duit, atau Cuma akal-akalan petugas aja,” celoteh kawan di redaksi gentamerah.com, di areal Banjit, Waykanan, Lampung.

Meski ditawari kopi, tapi ditolaknya, namun lancar caknya ngebul dengan rokok filternya, bahkan taka da cemilan untuk dinikamati pagi itu.

Seperti kata mereka yang tak perlu Ngopi (Ngobrol pinggiran), artinya terang-etrangan aja, karena saat itu mereka yang berkuasa, kalau mau cair ya ikuti aturan, tapi aturan yang mana. Yang penting lancar.

Aku nyimak celoteh kawan, dan mencoba mengecilkan volume musik di komputerku, karena sepertinya agak serius obrolan ini. Lagu mandarin yang belum kumengerti artinya, namun gamblang dalam rangkain liriknya, harus berhenti ku nikmati.

“Gila ga, kalau satu nasabah yang mau mencairkan uang pinjaman harus setor dulu ke petugas survey sejumlah uang. Padahal belum cair. Ntah apa namanya ini, bingung aku, enak kalau seiklasnya, ini sudah di patok besarannya,” ujar kawan.

Otakku treveling mencari istilah yang disebut kawan, mau aku sebut Pungli, ntar salah, mau ku sebut uang jasa, emang ada aturannya, kayaknya kalau jasa, harusnya buktikan dulu, baru minta.

“Ah paling segelintir orang yang dimintai gitu, ada juga yang emang ngasih,” sergahku, sekenanya.

Dengan sigap kawan menjawab, bahwa kalau ngasih itu gak ada besarnya tarif.
“Iya juga,” pikirku, sambil ngambil sebatang rokok kawan dari bungkusnya, karena rokokku tinggal sebatang. Tak pakai basa-basi langsung ku hidupkan korek api dan kusilapkan di rokok filter itu.

Aku hisap dalam-dalam rokok hasil mintaku, seperti mereka pelaku pungli, jika tak segera terkuak maka akan terus merajalela. Tapi ada sebuah ketakutan dari nasabah, tahun depan ga bisa cair lagi jika melakukan pinjaman.

“Jangan di viralkan, Kang. Takut tahun depan minjam ga bisa cair lagi. Kan bisa aja tim survey gak meng ACC nya,” kata kawan, sambil scroll androitnya.

Inilah ketakutan para korban, apapun itu namanya. Dengan kekuasaan para pelaku akan bisa berbuat leluasa, apalagi jika korban ketakutan…

Ah ntahlah, aku akhiri saja obrolan itu, karena percuma di obrolkan kalau ga ditulis, aku ini katanya penulis bukan hanya pendengar setia. Ya sudahlah, perut juga dah keroncongan.

 

Exit mobile version